Merenungi Kembali Fungsi Pendidikan di Indonesia

Posted on

Merenungi Kembali Fungsi Pendidikan di Indonesia – Awalnya pendidikan formal di Indonesia bertujuan untuk mengarahkan masyarakat pada pembentukan dan pendidikan kaum muda yang mengabdi pada bangsa dan tanah airnya sendiri, akan tetapi dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat penjajah agar dapat ditransfer oleh penduduk pribumi dan menggiring penduduk pribumi menjadi budak dari pemerintah penguasa pada saat itu. Konsep ideal pendidikan oleh penjajah adalah pendidikan yang sedemikian mungkin mampu mencetak para pekerja yang dapat dipekerjakan oleh penjajah pula, bukan lagi untuk memanusiakan manusia sebagaimana dengan konsep pendidikan yang ideal itu sendiri. Sesungguhnya tujuan pendidikan adalah demi kepentingan penjajah untuk dapat melangsungkan penjajahannya. Yakni, menciptakan tenaga kerja yang bisa menjalankan tugas-tugas penjajah dalam mengeksploitasi sumber dan kekayaan alam Indonesia.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia dari dulu hingga sekarang selalu takhluk pada kekuasan di atas dirinya. Pertanyaan yang akan muncul selanjutnya adalah lantas siapa yang berkuasa di atas pendidikan saat ini? Pertanyaan tersebut akan mengantarkan kita pada perenungan mendalam tentang sosok yang sangat diuntungkan karena pendidikan. Masyarakat yang sanggup mengeyam pendidikan cenderung mendapatkan penghasilan yang lebih layak, tetapi tidak semuanya demikian. Menjadi penting dalam pembahasan ini adalah tidak ada hal yang berubah dari sistem pendidikan pada masa penjajahan sampai sekarang.

Merenungi Kembali Fungsi Pendidikan di Indonesia

Pendidikan tinggi menjadi syarat untuk menebus pekerjaan di masa depan, bukan untuk mengembangkan rasa kemanusiaan yang diharapkan berdampak pada majunya kebudayaan serta peradapan. Pendidikan yang ada di Indonesia tidak untuk kepentingan keilmuan dan peradapan yang lebih manusiawi. Semua berjalan untuk pekerjaan semata, kita mungkin sudah merdeka dari penjajahan fisik, tetapi pemahaman kita tentang konsep pendidikan masih sama seperti di zaman penjajahan. Pendidikan tidak pernah diarahkan untuk kepentingan keilmuan, kemajuan kemanusiaan, dan peradapan sampai saat ini. Masyarakat hanya dicetak untuk menjadi pekerja tanpa diajarkan menjadi manusia yang merdeka seutuhnya.

Keadaan tersebut sudah mendarah-daging dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dari kata-kata yang lazim diucapkan orang tua pada anaknya “bersekolahlah agar kelak mendapat pekerjaan yang layak”. Sayangnya, tidak ada yang menangisi kenapa kata-kata tersebut sangat akrab ditelinga, kita percaya bahwa hal tersebut sangat wajar terjadi. Dengan demikian, tidak salah jika masyarakat dibentuk dengan mental petarung bukan pelajar oleh lembaga pendidikan. Bakti nyata bahwa keilmuan tidak lagi menjadi pusat dari pendidikan adalah slogan-slogan dalam dunia pendidikan, yaitu kata ‘bersaing’. Banyak sekali kita jumpai promosi-promosi pendidikan seperti “menyiapkan siswa yang mampu bersaing di dunia kerja”, “menyiapkan generasi unggul”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan yang membentuk mental pelajar menjadi petarung. Nasehat guru pada muridnya “persaingan itu wajar, asalkan tetap positif”.

Mari kita kembali merenungi semua ini, dampak panjang dari sistem pendidikan yang seperti itu adalah pergeseran fungsi lembaga pendidikan dan matinya kasih sayang pada sesama. Ilmu pengetahuan, wawasan, dan keterampilan bukanlah sesuatu yang akan hilang kalau kita bagikan. Namun, dengan penanaman mental pelajar sebagai petarung dalam dunia pendidikan, sifat ilmu pengetahuan, wawasan, dan keterampilan menjadi ‘kebendaan’ yang jika diberikan atau diajarkan akan habis dan hilang. Dengan cara pandang yang demikian, wajar kalau setiap siswa datang kesekolah bukan untuk belajar, tetapi untuk memperebutkan ilmu pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang akhirnya akan terwujud dalam bentuk nilai. Saling belajar dan mengajari antar teman adalah hal yang membahayakan, siswa-siswa datang kesekolah dengan tekat menjadi siswa yang paling pintar, bukan menjadi pintar bersama-sama. Akhirnya, secara diam-diam setiap siswa saling menjatuhkan dalam doa dan tindakannya serta secara diam-diam juga para siswa menyimpan senjata dalam hatinya untuk menikam teman (siswa yang lain) jika diperlukan.

Lebih jauh, pendidikan di Indonesia adalah pendidikan kepatuhan. Siswa hanya diajarkan patuh belajar ini dan itu tanpa diajarkan menemukan hal-hal baru dalam keilmuan, tugas mereka hanya untuk memakai saja ilmu yang sudah ada. Mereka tidak diajarkan memecahkan masalah dengan mencari solusi sendiri atas masalahnya, bahkan apa yang dipelajari dalam pendidikan adalah sesuatu yang tidak berhubungan sama sekali dengan kehidupan nyata. Sebuah budaya pendidikan yang dangkal memang, itu semua terjadi karena  para siswa hanya dicetak untuk menjadi pekerja, lebih tepatnya mesin-mesin industri.

Bukan pekerja yang merdeka dan kreatif siap menghadapi masalah kehidupan, tetapi pekerja yang takut bekerja secara mandiri, takut tidak memiliki sandaran ekonomi, dan jalan yang harus diambil adalah mengemis pekerjaan pada sebuah perusahaan. Akhirnya, jika perusahaan-perusahaan memiliki tempat karantina manusia sebelum diseleksi untuk menjadi tenaga kerja, nama tempat tersebut dikenal dengan ‘lembaga pendidikan’ di Indonesia. Kapitalislah yang sangat diuntungkan dalam pendidikan di Indonesia, segala sesuatu yang ada di dalam pendidikan formal masyarakat haruslah menguntungkan kapitalis.

Demikianlah pembahan singkat mengenai Merenungi Kembali Fungsi Pendidikan di Indonesia, semoga artikel diatas dapat bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih 🙂